Sepakbola dan Anarkisme


Oleh: Ahmad Taufiq Abdurrahman

Anarkisme adalah ajaran (paham) yang menetang setiap kekuatan negara. Anarkisme juga merupakan teori politik yang tidak menyukai adanya pemerintahan dan undang-undang. Terminologi umum ini menggambarkan akan penolakan anarkisme terhadap sebuah kemapanan (establishment) yang digambarkan dalam sosok negara yang memiliki aturan dan undang-undang yang mengikat warganya, ditambah dengan aturan norma dan etika budaya domestik yang telah mapan (terakui dan diakui).

Budaya dapat terbentuk melalui unsur natural dan kesengajaan (bentukan). Namun, pergeseran budaya –yang merupakan sebuah kewajaran- dapat merubah budaya natural (original) menjadi budaya baru yang terkadang berbeda secara radikal dengan budaya aslinya.

Sepakbola adalah budaya universal yang –entah dari mana asalnya- kini telah menjadi bagian dari "budaya" kemanusiaan. Budaya, biasanya cenderung variatif bergantung dengan kondisi ekologi, sistem sosial dan kecenderungan pola dan interaksi hidup anatar manusia yang melahirkan budaya tersebut, ditambah dengan sistem yang mengikatnya. Dan kekerasan merupakan bagian dari budaya yang terbentuk dari dinamika mental dan kecenderungan individu yang mengalaminya.

Nilai dan budaya kekerasan dalam sepakbola pun sangat terkait dengan budaya terwarisi dan bentukan. Nilai budaya terwarisi dalam sepakbola adalah stamina, karakter, gaya dan pola permainan, strategi dan daya juang para pemainnya. Budaya bentukan dalam sepakbola berupa pengembangan strategi dan pembinaan dan manajemen serta kemampuan permaianan. Semua budaya ini kemudian membentuk satu dalam lingkup "budaya sepakbola" lokal.

Pluralisme sepakbola

Indonesia, negara berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa, dengan warna kulit (ras), suku dan budaya yang bhineka, sebenarnya sangat kaya untuk memiliki budaya sepakbola kolaboratif yang tangguh. Hanya saja kebhinekaan ini justru memunculkan banyak kerusakan. Bhineka ini sebenarnya cukup untuk menjadi dasar kesepahaman adanya "warna-warna" emosi dan idealisme tertentu. Hanya sayangnya, aplikasi emosi dan iselisme ini cenderung anarkis dan destruktif.

Inggris sebagai "bumi" sepakbola modern –walau memiliki manajemen sangat padu dalam administrasi persepakbolaannya- tetap tidak dapat mengontrol kecenderungan emosional para holligan-nya. Italia dengan "peradaban" sepakbola dan keteraturan pola permainan sepakbolanya, tetap saja sulit untuk membentuk Tiffossi yang rukun dan kelem. Dua negara tersebut adalah raksasa bisnis sepakbola dunia, tetapi masih kerepotan untuk mempropagandai "budaya bentukan" emosi, etika dan idealisme sepakbola para supporternya. Apalagi Indonesia yang ranum dan miskin dengan manajeman dan pengelolaan "dunia" sepakbola nasionalnya. PSSI terlalu sibuk untuk mengatur dapur yang selalu bermasalah, mengatur dan mengawasi etika "jujur" para wasit dan kesopanan para pemain yang terkadang unprofessional, repot mengatur jadwal pertandingan yang terkendalai oleh batas lautan, dan berbagai kesibukan internal mereka. Lalu kapankah mereka memiliki waktu untuk memikirkan dan mengurus "pembudayaan" sepakbola Indonesia?

Dengan keragaman emosi (kedaerahan atau kesukuan dan kepentingan) anggotanya, justru seharusnya PSSI dapat mengedepankan unsur proyek "budaya sepakbola nasional" bekerja sama dengan pemerintah dan departemen terkait. TapI sekali lagi, bagaimana kepedulian pemerintah dengan sepakbola karena ada anggapan bahwa sepakbola hanya partikel dari kreasi anak bangsa, dan masih banyak unsur-unsur lain yang layak dikedepankan untuk "dibudayakan". Tetapi ternyata justru kini sepakbolalah yang mendunia sebagai delegasi "budaya olahraga" suatu bangsa.

--- Kembali ke Muka ..... ----

Tidak ada komentar: