Hadhrami 2

Salam Islami Sabandsa ....

Tengkyu guys .... apresiasi kalian begitu besar (walau hidung kecil n pesek :)) n banyak hal yang bisa gue pelajari n mengerti dari berbagai visi ini. Semoga Tuhan membalas budi ilmu n pengalaman yang kalian kasih ke gue dalam isu ini.

Kalo secara pragmatis kayaknya betul kata om fikron untuk apa membicarakan sebuah ikhtilaf yang emang dah secara furu' gak bakal ketemu jalan keluarnya. Cuma gue agak gak setuju andai kita harus apatis dengan fenomena lingkungan n sosial, karena kita belajar, kuliah, baca buku nll adalah untuk mengkritis masalah biar ada solusi (minimal wacana n visi kita) terhadap isu2 yang ada ... walau mungkin hasilnya kita memilih jalan tengah (karena memang untuk menghasilkan sintesa bagus adalah dengan objektif ... yang adil n "tengah") ... itulah yang Allah bilang bahwa Islam adalah agama "wasath" (wasth bukan cuma pertengahan berimbang, tapi "penengah" yang adil dengan ihsan).

Gue sangat ingat ketika gue kuliah dulu, pengebirian yang dilakukan rezim Orba untuk melumpuhkan daya kreatifitas n kritis mahasiswa indo adalah dengan memberlakukan pola NKKBKK ato juga penggunaan sistem SKS biar mahasiswa bisa sibuk dengan urusan n tugas2 kampus n bisa lupa dengan masalah yang ada (khususnya soal politik). Tapi ... emang dasar masyarakat Indo punya jiwa kritis n revolusioner, n menghasilkan demo2, reformasi n revolusi yang semuanya berasal dari "bakat" kritis orang2 indo.

Kami (mahasiswa Indo) di aligarh cukup harum namanya karena kita sangat kritis dengan lingkungan, ilmu n ibadah yang ada. Bahkan kalo gue ngurus segala sesuatu ijroat (administrasi) orang2 kantor semua dah tau bahwa kita kritis n selalu akan dikedepankan untuk beres urusannya. n gue rasa di Cairo juga gitu (insyaAllah ... amin).

KBRI watch yang kita buat n kerjakan (dengan link kawan2 mahasiswa indo di Eropa, Jepang n US) adalah untuk mengolah daya ritis kita terhadap lingkungan sosial, bukan berarti cari borok atau kesalahan, tapi mengingatkan mereka (sang birokrat yang korup) untuk meluruskan jalan n ingat bahwa baju, air dan makanan yang dah menjadi daging mereka adalah amanat ummat (rakyat).

Inilah yang gue harap dari kawan2 semua untuk lebih kritis (walau pahit, karena memungkinakan munculnya permusuhan karena salah tafsir atau tersinggung ... "Qul el-haq walau kana mur"). Lajnah Tqribul madzahib yang dikelola azhar adalah wadah untuk mempersatukan ummat Islam (dengan kepentingan universal Islam), tapi dengan gak menghilangkan daya kritis para ulama Islam untuk saling islah (dengan dalil yang falid) biar Islam (ummat dan institusinya) lebih kritis untuk siap menghadapi pola kritis orang Barat n bisa kembali berlaga di dunia international. Wal hasil .... liat menurunnya kans orang2 barat untuk menjatuhkan Islam dengan isu perpecahan Sunni-Syiah.

Ini semua adalah hasil dari daya kritis loh ... :))

Trus soal Hadrami yang kita bahas hingga sampai kepada isu tradisi. Sedikit gue informasikan di sini bahwa suatu saat dulu ketika zaman Soekarno -awal kemerdekaan (kalo gak salah zaman kabinet Shahril ... ??), isu priomordial lage santer2nya, n suatu saat di kabinet n parlemen sampai kepada pembahasan kritis soal idelisme n nasionalisme warga keturunan. Banyak asumsi n pertanyaan (sekaligus kebimbangan) soal nasinalisme mereka (karena memang pada saat itu indo lagi butuh ma rasa nasionalisme untuk menghadapi gempuran kompeni, n dunia Internasional yang banyak menyudutkan indo n Soekarno). Kemudian dalam rumusan masalah (tentang etnisitas untuk mempetakan etnis2 yang ada di indo) berdiri seorang anggota parlemen keturunan arab (gue gelap namanya tolong ingetin bagi yang tau ... ) dengan semangat n suara lantang dia bilang bahwa kami (keturunan Arab) adalah orang Indo dengan idelisme n nasionalisme indonesia, n dia menolak penggolongan Arab sebagai "etnis" karena dinilai sebagai gak indonesiawi utuh.

Inilah awal eksistensi keturunan arab dalam kancah kehidupan indonesia untuk disejajarkan dengan nasionalis pribumi, cuma sayangnya saat itu keturunan china blon dapat tempat untuk bersuara, n baru pasca reformasi (dengan teriakan Amin Rais) untuk mensejajarkan mereka (etnis china) seperti pribumi dengan hak dan kewajiban.

Kemudian soal eklusifitas, seperti emang kewajaran n hak private total (seperti eklusifitas etnis madura yang bisa bikin "embassy of Maduress di Saudi ... heheh). n yang Yopi bilang sangat betul, bahwa eklusivisme penduduk pedalaman masih wajar, cuma andai eklusifitas tersebut terjadi di kota besar maka akan menghasilkan sentimen. Tul tuh :) n sepertinya pola eklusifisme ini ada di mana2 hingga di negara maju (liat ekslusifisme n primordialisme kulit hitam n putih n china di Amerika ... n berbagai pola eklusifitas di belahan eropa). Hingga pertanyaan gue, seberapa jauh pola eklusifitas ini bisa terkikis oleh peradaban n modernitas n pendidikan, karena mereka (masyarakat AS n eropa) lebih modern n educated dari orang indo. So ... apa kiat kita untuk menghilangkan pola yang (menurut gue dalam berbagai aspek sosial -kota ato pedalaman) adalah salah ??

Trus soal perasaan "ninggi" beberapa oknum (keturunan nabi ato kepala suku nll), menurut gue berangkat dari pola egoisme perfeksionis, yaitu kecenderungan untuk hidup lebih tinggi (kayak borjuisme) dari kalangan (individu) lain. Isu equalitas Islam sepertinya sangat sulit meluruskan jalan ini (karena mereka oknum loh !!), walau Allah menurunkan berjuta2 firman untuk pembenaran equalitas, tapi penafsiran mereka akan ayat2 itu lain dengan seharusnya. Lalu apa mungkin benar ide Bernard Gearth (lupa spellingnya .. :)) yang melihat stratifikasi masyarakat Indo antara kaum santri n abangan, untuk kita lebur penggunaannya berdasar analisa persekfionis natural masyarakat Indo untuk gak akan pernah hidup equal ?? Ataukah ini adalah warisan feodalis kompeni (liat lyric lagu Slank "feodalisme warisan kompeni") ???

wow ... kebanyakan gue ngoceh, semoga gak kayak burung beo ... :) n semoga juga jangan disikapi terlalu serius biar gak stress tapi tetep kritis loh !! ... :))

Gimana kabar Cairo ?? semoga udara cerah musim peralihan ini menambah cerah cakrawala iman n intelektual kawan2 di cairo.

Indo, Australia ?? Mungkin masih subuh yach jadi masih ngantuk n blon sempet komentar ... hehehe

God bless u all.

Pipix

Aligarh Muslim University - India

--- Kembali ke Muka … ---

Tidak ada komentar: