Pragmatisme Pertikaian Agama dan Kesenjangan Dunia

Oleh: Ahmad Taufiq Abdurrahman

I. PENDAHULUAN

Banyak tesis para ahli dan cedekia seputar kemelut agama dan hidup keberagamaan. Theologian Hans Küng dalam bukunya Global Responsibility menuturkan: "No world peace without peace among religions; no peace among religions without dialog between religions." Damai, yang seharusnya tujuan lahirnya agama, dalam implementasinya justru merambah ironi pertikaian dan sengketa, hingga jutaan nyawa telah teregangkan.

Tak ayat, agadium Karl Marx: “Religion is the opium of people,” menyeruak kembali untuk menyangkal esensi kedamaian agama. Marx memandang agama sebagai penyebab lahirnya pergolakan-pergolakan dan kecenderungan pasivisme dan konservatisme dunia. Idenya ini menumbuh-kembangkan beberapa premis lain: Benarkah manusia kini butuh wacana baru yang “berbeda” dari agama untuk mewarnai peradabannya, setelah agama “gagal” menyejahterakan mereka? Atau gugatan: Layakkah agama masih ada untuk menjadi jalan alternatif dalam konflik keduniaan saat ini?

Sengketa emosi keagamaan (conflagration/the communal riots) yang terjadi di India pada masa prakemerdekaannya pun telah membuat Mahatma Ghandi putus asa meladeni lakon pergolakan berdarah di tanah Gita-nya. Ia berkata pasrah: ”What sin have I committed that He (God) should have kept me alive to witness these horrors?

Tulisan kecil ini seperti layaknya tulisan-tulisan penulis lain dalam tema yang sama, yang isinya mungkin sering didengar orang dari diskusi, fatwa, ceramah ataupun siraman rohani para pemikir dan pemuka agama. Penulis hanya akan lebih akan menggaris bawahi akar dan latarbelakang “penyelewengan” paradigma dan refleksi keagamaan yang pengejawantahan doktrinnya kerap memicu anarki. Pun, akan penulis coba sodorkan “secuil” solusi alternatif guna memperkecil fenomena anarkisme religiusitas ini.

II. PEMBAHASAN

A. Definisi Agama

Para pakar psikologi agama menilai, untuk mencari definisi pasti tentang kata “agama” (religion) pasti akan menemui banyak kesulitan. Ini disebabkan oleh beberapa faktor[1]:

1. Subjektivitas pengalaman beragama. Karena agama terbentuk melalui proses belajar dan berkembang pengikutnya. Dan setiap orang akan menafsirkan sesuatu yang mungkin tidak dipahami atau diterima orang lain, karena perbedaan atau keterbatasan pengalamannya.

2. Kecenderungan emosional yang tersembunyi (potential emotional charge). Kecenderungan ini terkadang memberi distorsi pendefinisian kata “agama”. Karena, kata agama cenderung merupakan sesuatu yang bersifat baik (virtue word), yang memiliki anonim “smear word” (sesuatu yang bersifat buruk), seperti atheis atau komunis. Hingga muncullah banyak anggapan untuk mengklaim diri beragama atau religius (berkelakuan baik), untuk menghidari gelar tidak beragama atau unreligius yang berkonotasi buruk kelakuan dan sifat dirinya.

3. Setiap pemikir maupun ilmuan cenderung akan mendefinisikan makna “agama” dengan maksud, tujuan dan latarbelakang misi, visi, dan disiplin ilmunya. Beda pendifinisian ini tentu akan sangat menentukan kelanjutan konsep keagamaan yang didefinisikan itu. Dari situ akan muncul diferensi dan corak agama yang berbeda menurut batasan definisi yang ada.

B. Mengapa Beragama?

Sesuatu yang baru, biasanya muncul berkat keunikan dan keghariban (keanehannya) bagi taraf pemikiran yang berlaku saat itu. Dan keanehannya pun selalu menentang masa dan logika yang berlaku. Tapi dengan sifat ini, eksistensinya akan lebih pesat berkembang menjadi tradisi baru disebabkan keingintahuan masyarakat untuk memahami maupun menghalangi tradisi tersebut. Agama sebagai bagian dari fenomena ini, terlahir karena proses tersebut. Fluktuasi teori dan visi keagamaan pun berkembang sejalan dengan pangsa masyarakat dan objek yang ada, baik pro ataupun kontra.

Dan lahirnya agama baru -sebagai sebuah “keanehan” pada masanya-, umumnya merupakan penghadangan terhadap status quo, kemapanan –atau penyelewengan-, tren ideologi maupun tradisi yang ada. Penghadangan ini baik dalam upaya pembetulan atau penyempurnaan, yang beresensi dasar sebagai upaya reformasi sosial. Islam terlahir menantang fenomena kebodohan (jahiliah). Jesus terlahir, dimusuhi dan disalib karena ketakutan masyarakat Yahudi akan penghadangan ajaran Taurat yang kelak akan dipimpin “sang juru selamat” itu. Buddha terlahir untuk melengkapi dogma Hindu, setelah ia melewati skeptisisme hidup yang dinilai Sang Gautham ini masih “kurang memuaskan”. Begitu pula dengan munculnya sekte-sekte baru keagamaan, seperti Protestan, Sikh, Syi’ah dan lainnya, yang juga merupakan manifestasi pencerahan (renaissance) dan reformasi dogmatis yang berlaku pada zamannya.

Selain itu, dalam konteks manusia modern, agama muncul karena adanya kecenderungan rasa “lelah” mereka terhadap kehidupan kebendaan (materialistik). Kesibukan hiruk-pikuk duniawi, berdampak kepada tekanan mental, moral dan fisik, serta penghambaan mereka terhadap materi. Klimaksnya, lahirlah keinginan individu materialis itu untuk mencari penyegaran (atau “lokasi pensiun”) dari kehidupan kebendaannya. Pada fase inilah kebutuhan akan spiritualitas meningkat. Dampaknya, eksistensi, posisi, urgensi agama pun mencuat sebagai jalan tengah (wasath atau middle way) penyelaras dinamika kehidupan.

Faktor inilah yang membuat para pakar psikologi menghadapi kesulitan mencari muara kecenderungan manusia untuk beragama. Karena muaranya complicated dan terikat dengan dinamika fisik manusia. Sigmund Frued memandang, kecenderungan manusia memilih agama adalah karena usaha mereka untuk melarikan diri (escape) dari realitas, untuk mencari induk imaginasi dirinya (father image).[2] Stratton memandang muara agama adalah konflik, karena konflik adalah faktor utama lahirnya kesulitan (distress). Dari kesulitan, usaha individu untuk belajar pun kemudian berkembang.[3]

Sayangnya, terseruak antitesa bahwa agama telah ditunggangi kepentingan, ambisi dan keserakahan tertentu. Politisasi agama juga sudah menjadi bagian yang sulit terpisahkan dari dinamika politik kontemporer, lihatlah konsepsi doktrin teokrasi dîn wa daulah sebagai contohnya. Begitu pula tercermin dari catatan pergolakan dunia yang kasat menunjuk persaingan antaragama telah melahirkan pertumpahan darah yang tak terhingga di muka bumi ini. Agama yang sejatinya merupakan komoditas rohani immaterial, kini berangsur bias. Jutaan nyawa melayang akibatnya, seperti dalam konflik SARA di India.

C. Latarbelakang Konflik Beragama

Ada beberapa hal yang dapat dikategorikan sebagai motif pemicu konflik beragama. Klasifikasi sebagai berikut:

1. Aspek imateri

Dalam aspek ini terdapat dua dimensi: dimensi psikologis, dan dimensi etis (arogansi pemeluk agama).

a. Dimensi psikologis

Manusia dan keyakinan absolute terhadap kebenaran keyakinannya, telah melahirkan ego dan kecenderungan untuk saling menguasai, memengaruhi dan menaklukkan. Kecenderungan ini lalu membuat dinamika peradaban manusia hiper agresif, bahkan proaktif. Selanjutnya, lahirlah kecenderungan saling mencurigai karena rendahnya ras saling percaya (low trust). Pada tahap berikutnya, radikalisme yang memicu kekerasan pun rebak. Lihat fenomena Laskar Jihad maupun Laskar Kristus dalam kasus Ambon sebagai contohnya[4]. Begitu pula dengan Holocaust –entah benar atau tidak eksistensi sejarah ini-, atau juga etnic cleaning yang dilakukan Serbia. Rebaknya etnical crisis akibat nepotisme ini, andai diruntut secara empirik, akan terlihat akar pemicunya adalah kecenderungan superioritas sebuah komunitas terhadap komununitas lain.

Frued[5] berpendapat, bahwa manusia memiliki unsur dasar sifat hewani (id), ego dan super ego. Id atau ethos thenathos instink (the source of a person’s instinctual energy) memiliki unsur seksual dan agresifitas. Sedangkan ego menjadi manajer (pengatur) lahirnya kognisi (proses untuk mengerti). Sedangkan super ego (the moral branch of mental functioning, comprises ideal and conscience and taught by parents and society) menjadi basis moral dan fungsi mentalnya. Dan agama termasuk bagian dari super ego ini.

Tugas ego adalah memuaskan id dan super ego. Kecenderungan setiap individu untuk menaklukkan individu lain, menurut Freud, terlahir dari dampak negatif agresifitas yang tidak terkendali dan memaksa untuk dipuaskan. Ketidak-mampuan individu untuk mengalihkan dampak negatif ini kepada hal positif, maka akan memunculkan kecenderungan sikap diskriminatif atau pula rasis. Etos benci ini dalam fenomena keberagamaan akan melahirkan kebencian dan kecenderungan untuk mencemoh orang yang berlainan agama.

Dalam tatanan yang lebih luas, dalam komunitas sosial maupun negara, kecenderungan ini melahirkan imperialisme dan kolonialisme. Kaum imperial dan colonial memiliki upaya menaklukkan komunitas lain untuk beragam alasan, seperti eksploitasi sumber daya dan budaya komunitas lain, atau juga melakukan perbudakan terhadao mereka. Untuk konteks agama, kecenderungan ini teraplikasi dalam bentuk usaha misionarisasi (pengalihan keyakinan kepada keyakinan lain), dengan mengangkat isu “superioritas” kebenaran agama tertentu. Andai upaya penyampaian misi ini dilakukan dengan jalan kekerasan, dampaknya akan menghasilkan perlawanan. Dan aneka kekerasan yang dilakukan anak manusia adalah terlahir dari kecenderungan untuk saling menaklukkan (menguasai) ini.

b. Dimensi etis (arogansi pemeluk agama)

Ilmu pengetahuan membuat manusia lebih membuka lebar mata, wawasan dan hati terhadap dimensi dunia lain. Termasuk terhadap paham yang berseberangan dengan keyakinan pribadinya. Maududi[6] menilai, “buta” akan ilmu pengetahuan yang lahir dari kebodohan (ignorance), akan membuat manusia cenderung berpikir pragmatis menyikapi realitas yang dilihatnya.

Sikap pragmatis empiris karena keterbatasan indera ini, akan melahirkan sikap apatis, yang kemudian melahirkan sikap totaliter terhadap kebenarannya yang minim itu. Kemudian akan menimbulkan sikap idealistik terhadap keyakinannya, dan memuncak pada lahornya radikalisme (militansi) pemikiran. Ketika taraf pengetahuan itu terbentur oleh sikap radikal, maka pemiliknya akan cenderung memilih anarkisme dalam menghadang aneka upaya pengebirian keyakinannya.

Sikap arogan ini sangat banyak tercatat dalam perjalanan sejarah perang dan friksi ideologis. Beberapa kasus besar[7] mungkin dapat kita angkat sebagai contoh. Seperti arogansi Umar ibn Khaththab yang memerintahkan tentaranya untuk menghancurkan dan memusnahkan perpustakaan Alexandria saat menaklukkan Mesir. Alasannya, “pemusnahan sisa-sisa jahiliah yang unislami”. Atau juga dengan arogansi tentara salib yang menghancurkan jutaan literatur dan piranti-piranti Islam pasca kejatuhan Baghdad. Begitu pula dengan tragedi demolition (penghancuran) Babri Masjid di India oleh kelompok militan Hindu.

2. Aspek materi

Faktor lain yang juga relatif krusial menjadi penyebab pergeseran manifestasi agama dari ranah damai menjadi ajang adu jotos, adalah faktor kecemburuan sosial. Realita ini sangat terlihat dalam latarbelakang terjadinya tragedi kemanusiaan bertajuk agama. Akar dan modus operandinya terlihat jelas berasal dari kesenjangan sosial, yang kemudian menggradual menjadi kecemburuan social, dengan klimaks bom waktu pecahnya krisis sosial.

Konflik multi dimensi di Ambon, Poso, atau anarkisme anti nonpribumi contohnya. Atau juga konflik sektarian Bosnia-Serbia, serta kontroversi anti-semit. Secara empirik, konflik ini sangat terkait erat dengan akar kecemburuan sosial terhadap eksistensi dan kemapanan ekonomi golongan tertentu penguasa basis/sektor ekonomi. Sikap antipati kelompok tertentu dan upaya pengambil-alihan hak pribumi “yang terampas” pun kerap menjadi legitimasi tindak anarkisme.

D. Solusi

Jelas, adanya konflik selalu disertai dampak kerugian materi.namun di balik itu, ada pula nilai positifnya. Yakni lahirnya peradaban baru, baik berupa teori, hukum, agama atau sistem kehidupan baru, yang lebih terkendali dan terorganisir. Lahirnya PBB adalah produk dan dampak positif dari konflik Perang Dunia kedua. OKI juga terlahir dari hasil olah kesadaran Pan-Islamisme dari dampak perang ideologis Islam vis a vis imperialisme.

Lahirnya berbagai forum interaksi, dialog dan pendekatan agama dan sekte keagamaan, seperti Lajnah Taqrîb bain al-Madzâhib di Mesir juga dampak dari upaya meredam konflik Sunni-Syiah. Begitu pula dengan lahirnya kriminalitas, diskriminasi dan persengketaan yang dapat menyuburkan semainya teori-teori hukum konvensional.

Belajar dari pengalaman pergolakan yang diboncengi isu keagamaan, aspek positifnya berupa berkembangnya cara, metode praktis dan pragmatis untuk mencari solusi alternatif meredam anarkisme secara dini (preventif). Salah satu hasinya dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Sekularisme

Untuk tidak terjebak dalam polemik pro dan kontra makna “sekuler”, di sini akan dibatasi penekanan maksud sekulerisme sebagai sebuah gerakan. Hingga ia bermakna sebagai proses pemberdayaan intelektualitas individu untuk meningkatkan standar ilmu pengetahuannya. Yang pada level tertentu (dalam skala besar), dapat menggapai tahap “pemahaman” yang sempurna terhadap sesuatu. Dan dari pemahaman itulah sifat pengertian dan toleransi akan tercipta.

Dengan kata lain, pendidikan yang merupakan pintu pengetahuan, adalah jantung bagi pembetukan watak yang terjadi melalui proses belajar dan berpengalaman. Pendidikan adalah basic point pembentukan watak, atau karakter pola dan cara berpikir seseorang. Dengan meningkatnya pengetahuan seseorang, kemungkinan pemahaman dirinya terhadap dimensi lain di luar batas pengetahuan (hasil baca, lihat dan dengar) pun akan terbuka. Pada perkembangannya, pengetahuan itu akan menuntutnya untuk berusaha tahu, atau minimal “bersabar” dalam ketidaktahuannya.

Dalam aspek theologi, Maududi[8] berpendapat, pengetahuan manusia akan dirinya merupakan pondasi sosial keberadaannya di muka bumi. Melalui proses belajar dan berpengalaman lewat pengetahuan, kesadaran terhadap dimensi kebersamaan (collective life of mindkind) akan lahir. Persamaan hak, status dan kesempatan (apportunities) tanpa superioritas, sektarian dan dominasi parsial antar anggota masyarakat juga akan terbentuk.

2. Humanisme

Humanisme memiliki makna luas, tergantung penempatan konteksnya dalam terminologi yang diinginkan[9]. Dalam konteks terminologi agama, humanisme dapat diartikan sebagai “rekomendasi bagi manusia untuk menuju kesuksesan dirinya melalui bingkai agama”. Kalangan agamawan humanis mendefinisikan agama sebagai “which serves the personal and social needs of a group of people sharing the same philosophical world view”.

Bagi kalangan humanis, manusia memiliki orientasi luas dan sepenuhnya dalam melaksanakan keimanannya. Kenneth Phifer menyatakan: “Humanism teaches us that it is immoral to wait for God to act for us. We must act to stop the wars and the crimes and the brutality of this and future ages. We have powers of a remarkable kind. We have a high degree of freedom in choosing what we will do. Humanism tells us that whatever our philosophy of the universe may be, ultimately the responsibility for the kind of world in which we live rests with us.

Dalam filsafat ketuhanan Islam, kalangan ini dikenal dengan Ikhwanusy-Syafâ` yang lahir dari konstalasi perkembangan pemikiran tentang Qadha dan Qhadar Allah SWT. Motor gerakan ide ini dikenal dengan aliran Mu’tazilah yang bercirikan fleksibelitas penafsiran mereka terhadap Islam dan syariatnya, dan menempatkan posisi manusia sebagai pengatur kehidupan dirinya untuk memilih baik dan buruk, akibat yang akan ditimbulkan dari sikap dan perbuatannya tanpa campur tangan Tuhan. Pertanggungjawaban semua resiko sikap, individu murni akan menanggungnya di kemudian hari (hereafter).

Pada dasarnya terdapat beberapa kesamaan antara visi sekuler dan religius humanis, perbedaannya hanya terletak dalam polemik pandangan mereka seputar definisi agama dan praktek filsafat agama. Maka wajar andai sering kalangan humanis agama menuding humanis sekuler sebagai “unchurched” (tidak bergereja bagi humanis/sekuler Kristen), atau “unislam” (tidak islami bagi kalangan humanis/sekuler Islam, seperti terlihat dalam kasus Salman Rushdie).

Tujuan menjadikan dimensi humanisme ini sebagai salah satu solusi adalah untuk melahirkan visi unitarianisme (persatuan) dan universalisme (kebersamaan luas) melalui bingkai agama. Karena dengan visi ini, akan muncul kesadaran untuk sharing (membagi) seputar sensitifitas kemanusiaan dalam beragama. Kemudiann akan membendung konflik dan benturan konsep dogmatik antaragama. Hingga rasa “memaklumi dan memahami” akan mudah tumbuh, dan meranjak hingg menerima perbedaan sebagai fenomena kewajaran.

3. Sosialisme ekonomi Islam

Solusi ini merupakan pengembangan dari bahasan tentang dimensi ekonomis materi yang secara gradual telah menjadi picu konflik beragama. Pembahasan terkait konteks ini patut diperluas, mengingat fenomena pergerakan sosial ekonomi dewasa ini telah terkuasai oleh kapitalisme yang menghasilkan kesenjangan ekonomi dan social. Tentunya sangat terkait dengan dampak kesenjangan agama yang kerap menelurkan anarkisme.

Secara literal ilmiah, Kapitalisme merupakan doktrin yang menuntut posisi individu untuk ditempatkan secara independen (berdikari tanpa ikatan apapun) dengan individu lain. Dalam artian, kebebasan individu untuk mengeksploitasi dirinya sekehendak dan semampu hati harus dijamin, baik untuk menghasilkan maupun mematikan. Menurut doktrin ini, status dan strata kehidupan serta ekonomi individu, tergantung dengan tingkat kualitas aktivitas dan produktifitas masing-masing individu yang independen. Tanggungjawab perorangan terhadap orang lain tidak menjadi keutamaan, karena individu hanya bertanggungjawab kepada negara yang menjamin kenyamanan dan kesejahteraan hidup individu itu berdasarkan sistem pembayaran pajak personal.[10]

Sedangkan Sosialisme bercirikan campur tangan negara dalam berbagai urusan individu. Negara berhak mengatur, atau membatasi, standar hidup rakyatnya. Peran negara juga sangat kuat dalam pendayagunaan dan fasilitasi kemakmuran rakyatnya, baik melalui subsidi atau pula pemerataan strata kehidupan rakyatnya.

Posisi Islam dalam polemik ini cenderung berpihak kepada keutamaan Sosialisme. Prof. Zia ul Haq[11] menggambarkan, bahwa secara empirik dan pragmatis, Kapitalisme sangat kontra dengan pola dasar kehidupan yang maksud al-Qur`an. Karena ajaran moral Al-Qur`an berintikan pada azas persamaan sosial, kejujuran (sincerity), keadilan (justice), dan kebersamaan (unselflessness). Pun, konsep-2 dasar yang terkandung dari dogma dan ritual shalat, zakat, jihad dan lainnya, yang secara visual politis menegaskan pembelaan Islam terhadap masyarakat bawah (poor working classes). Termasuk dalam upaya “pemerataan” rizki kehidupan. Apabila sistem Kapitalisme dibakukan menjadi sistem kemasyarakatan, menurut Zia ini terkategori sebagai sikap “penzhaliman terhadap alquran” (quran zalima).

Walau mungkin belum pasti dan menyeluruh dapat dikatakan bahwa pola Sosialisme sangat mirip dengan Islam. Karena ada beberapa sendi dalam Islam yang menekankan aspek individualisme. Seperti dalam urusan ‘ubûdiyah (ibadah). Tetapi, menurut hemat penulis, dasar pola ekonomi Sosialisme cendrung lebih “islami” karena mengedepankan pemeratan. Dan selanjutnya sangat membuka peluang terjadinya keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat. Dengan pola ini, kemungkinan timbulnya kesenjangan-kesenjangan yang memicu anarkisme akan lekas tertangani, dan keadilan social pun akan lahir.

4. Dialog agama dan budaya (hiwâr adyan wal-hadhârah)[12]

Kehidupan modern berciri pada common interests (kecenderungan umum/bersama) yang rentan melahirkan conflict of interst, termasuk konflik agama. Hingga butuh dimunculkan sebuah pendekatan ampuh untuk meredam sengketa tersebut, yaitu dialog. Sebab, konflik yang dilakoni otot akan menimbulkan luka fisik. Dengan dialog, manusia akan lebih mudah terbuka dengan perubahan untuk menuju kebersamaan. Juga, manusia akan memahami pola pikir, sikap dan aspirasi ideologi yang berseberangan. Tepatlah jika teolog Hans Kung memandang: "No world peace without peace among religions. No peace among religions without dialog between religions”.

Hanya saja, konservatisme beberapa kalangan dalam membuka mata dan hati untuk melakukan dialog kerap mengendalai pengejawantahan ide ini. Alasan intinya adalah pandangan absolutisme ajaran dan finalitas dogmatis mereka terhadap keyakinan. Biasanya sifat ini muncul berkat upaya mereka untuk membentengi kebersihan iman dari kontaminasi iman asing.

Walau sikap ini adalah sikap yang lumrah, atau bahkan “wajib” bagi kalangan beragama, namun pada perkembangannya justru membuat banyak kalangan lupa bahwa persaingan (munafasah) antaragama bukanlah persaingan keduniaan, baik superioritas ataupun arogansi. Tapi lebih merupakan persaingan kompetitif terhadap kebajikan (sibâq al-khairât). Dengan membuka pintu dialog, solusi meniti persaingan kompettif dan fair akan menciptakan kebaikan (kedamaian).

Selain itu, kealpaan akan masa depan yang disebabkan trauma sejarah akibat konflik ideologi, melahirkan pandangan negatif, picik, antagoni (kebencian), antipati dan kecurigaan (low trust) antarpemeluk agama. Kondisi ini kian meruncingkan kendala dialog yang akan dibangun. Karena memang tidak mungkin dipungkiri bahwa tipe kebudayaan (culture/hadarah) dalam berbagai zaman telah terlahir berkat peran kuat agama. Seperti kebudayaan Mesir Kuno dengan penuhanan Fir’aun, kebudayaan Arab dengan Islamisme; kebudayaan Romawi dan Barat dengan Kristenisme, kebudayaan India dengan Hinduisme, Budhisme dan Islamisme Mongol.

Kecenderungan ini kemudian melahirkan rivalitas antarbudaya yang semuanya memimpikan bangkit kembali (resurgence) mengangkat gengsi dan superioritas. Maka tersisiplah prasangka (prejudice, qîla wa qâla, atau su’usdzan) yang akan terbalas dengan tumpukan prasangka lainnya. Dengan berkembangnya prasangka, maka potensi konflik akan kian meluas.

Sadar akan gelagat ini, maka banyak tokoh-tokoh agama kontemporer menggelar dialog lintas agama (cross border dialog)[13]. Modus penekanan dan pendekatan awalnya tertitik pada persamaan konseptual, dan meredam jauh sisi perbedaan yang akan rentan menimbulkan stagnasi upaya dialog ini.

III. PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari uraian singkat di atas, ada beberapa intisari yang dapat kita ambil. Di antaranya:

1. Fenomena benturan agama sangat berkait erat dengan semua aspek fisik dan psikis kehidupan, sosio-politik-ekonomi dan budaya manusia yang bersifat kekinian dan menyejarah (past and present). Solusi penanganannya harus bersifat menyeluruh, dengan mengedepankan dimensi futural (masa depan), dalam pola persamaan visi, tanpa melulu terpaku oleh trauma, sekat-sekat sejarah dan perbedaan konseptual.

2. Pendidikan merupakan kunci utama penanggulangan krisis ini. Karena dengan pendidikan, keterbukaan wawasan (melalui sekuleritas, humanitas dan sosialitas) akan mengembangkan kecenderungan dialog. Hingga rasa kebersamaan (collective life of mindkind) dengan hasil akhir saling pengertian (toleransi) pun akan terkembangkan.

B. Saran

Mari kita ingat pesan bijak dua orang besar: Mahathma Ghandi dan Daai Lama. Dalam ide “Talisman”nya, Ghandi melandasi premis: “Whenever you are in doubt or when the self too much with you, recall the face of the poorest and the weakest of men, whom you may be seen, and ask your self if step you are contemplating is going to be of use to him. Will it restore him to a control over his own life and destiny? In other words, will it lead to swaraj for the hungry and spiritually starving millions? Than you will find your doubt and your self meeting away.

Dalai Lama berpesan: "Every religion emphasizes human improvement, love, respect for others, sharing other people's suffering. On these lines every religion had more or less the same viewpoint and the same goal."

Kecermatan dan keinginan mendalam kita untuk memahami dan mengejawantahkan ide-ide brilian dua tokoh anti kekerasan ini, tentunya dapat menyaranai kita dalam mencari jalan tafakur menuju pencerahan (najah/salvation/moksa) hidup dan kehidupan.

BAHAN BACAAN:

Syed Abul ‘Ala Maududi, Islam and Ignorance, Markazi Maktaba Islam, Delhi, 1994

Walter Houston Clark, The Psychology of Religion, The MacMillan Company, New York, 1958

Lester Lefton, Psychology, 4th ed. Allyn and Bacon. MA, USA. 1991

Sigmund Frued, Civilization and Its Discontents, Norton & Company, Inc. New York, USA, 1989

V. Krapivin, What is Dialectical Materialism?, Progress Publisher, Moscow, 1987

Prof. Zia ul Haque, Revelation and Revolution in Islam, Idara Isha’at e Diniyat Ltd, New Delhi, 1996

Dr. Muhammad Hamdy Zaqzuq, Al-Islam Fi ‘Ashr al-‘Aulamah, Maktabah Syuruq, Cairo, 2001

George B. Grosen & Benjamin J. Hubbard, The Abraham Connection: A Jew Christian and Muslim Dialog, Cross Culture Publication Inc., 1994

William Kelley wright, A Student’s Philosophy of Religion, MacMillan Company, New York, 1958



[1] Walter Houston Clark, The Psychology of Religion, The MacMillan Company, New York, 1958, h. 17

[2] Sigmund Frued, Civilization and its Discontents, Norton & Company, Inc. New York, 1989, h. 20

[3] Walter Houston Clark, op-cit, h. 71.

Lebih lanjut G.M. Stratton menilai, dengan konflik beragama maka secara bertahap akan lahir sintesa dan ide-ide baru. Dan ketika konflik ini telah mencapai puncak emosional (poignant), maka dari situ manusia akan cenderung berusaha mencari pertolongan dan pelipur lara dari Tuhan.

[4] Laskar Jihad dan Laskar Kristus memiliki korelasi masalah dan makna dalam dua perkara besar. Pertama, nama “Laskar” yang berkonotasi militer. Sedangkan “Jihad” dan “Kristus” bermakna sakral. Ketika kata “laskar” disandingkan dengan “Jihad” dan “Kristus”, maka terjadilah magnitude yang dahsyat. Segala yang tidak mungkin dan tidak bisa sangat terbuka untuk menjadi mungkin dan bisa. Perdamaian yang tak mungkin, bisa menjadi mungkin. Perang yang tidak masuk akal sehat pun bisa terjadi dengan rasionalisasi yang digemari.

[5] Lefton, Lester. Psychology. 4th ed. Allyn and Bacon. MA, USA. 1991, h. 426-427

[6] Syed Abul ala Maududi, Islam and Ignorance, Markazi Maktaba Islam, Delhi, 1994

[7] Otentisitas contoh kasus ini masih menjadi perdebatan sejarah. Beberapa kalangan menganggap kasus ini fiktif, karena disinyalir ada rekayasa riwayat pihak tertentu, seperti orientalis.

[8] ibid, h. 30

[9] Banyak tipe dalam humanisme dan dapat diintisarikan beserta definisinya sebagai berikut:

- Literary Humanism is “a devotion to the humanities or literary culture.”

- Renaissance Humanism is “the spirit of learning that developed at the end of the middle ages with the revival of classical letters and a renewed confidence in the ability of human beings to determine for themselves truth and falsehood.”

- Cultural Humanism is “the rational and empirical tradition that originated largely in ancient Greece and Rome, evolved throughout European history, and now constitutes a basic part of the Western approach to science, political theory, ethics, and law.”

- Philosphical Humanism is “any outlook or way of life centered on human need and interest.’

- Christian Humanism is "a philosophy advocating the self- fulfillment of man within the framework of Christian principles."

- Modern Humanism is "a naturalistic philosophy that rejects all supernaturalism and relies primarily upon reason and science, democracy and human compassion." Modern Humanism has a dual origin, both secular and religious, and these constitute its sub-categories. Also be called Naturalistic Humanism, Scientific Humanism, Ethical Humanism and Democratic Humanism.

- Secular Humanism is an outgrowth of 18th century enlightenment rationalism and 19th century freethought. Many secular groups, such as the Council for Democratic and Secular Humanism and the American Rationalist Federation, and many otherwise unaffiliated academic philosophers and scientists, advocate this philosophy.

- Religious Humanism emerged out of Ethical Culture, Unitarianism, and Universalism. Today, many Unitarian- Universalist congregations and all Ethical Culture societies describe themselves as humanist in the modern sense.

[10] Lihat. V. Krapivin, What is Dialectical Materialism?, Progress Publisher, Moscow, 1987

[11] Prof. Zia ul Haque, Revelation and Revolution in Islam, Idara Isha’at e Diniyat Ltd, New Delhi 1996 p. 191

[12] lihat, Dr. Muhammad Hamdy Zaqzuq, Al-Islâm Fi ‘Ashr al-‘Aulamah, Maktabah Syuruq, Cairo, 2001

[13] Contoh detail tentang dialog agama, lihat: George B. Grosen & Benjamin J. Hubbard, The Abraham Connection: A Jew Christian and Muslim Dialog, Cross Culture Publication, Inc. 1994. (Edisi terjemah Indonesia lihat: Tiga Agama Satu Tuhan: Sebuah Dialog, Mizan 1999)



1 komentar:

Henny mengatakan...

Ini karya ilmiah? Tesis? atau apaa nih? lengkap dengan literatur nya! Oke. Sepertinya harus dibaca SEJARAH TUHAN dari Karen Armstrong tuh. Kenapa terjadinya pertikaian antar agama? Menurut Karen Armstrong adalah karena dalam setiap Al Kitab, Tuhan selalu menyakatan ke khusus-an setiap umatnya. Yahweh memberikan perlakuan khusus kepada kaum Yahudi, lalu Yesus adalah anak Tuhan yang diturunkan kepada kaum Nasrani. Trinitas menjadi konsep Tuhannya orang Kristen.Keesaan adalah konsep Tuhan Islam. Kesemuanya memiliki Al Kitab dan di dalam Kitab Suci itu Tuhan menyatakan dengan jelas bahwa setiap mereka adalah spesial. Akibatnya timbul lah rasa bangga pada agama sendiri... ah sudahlah baca saja bukunya sendiri. http://perpustakaanbunda.blogspot.com/2008/02/sejarah-tuhan.html